|
|
Nyoba nulis karya ilmiah populer!!!! cekidot ;")
Siapa yang tidak tahu Long
Distance Relationship (LDR) yang sedang
ramai dibicarakan oleh kaum remaja? Bukan saja menjadi hal yang menarik untuk
diperbincangkan namun LDR ini ternyata menyimpan berbagai mitos-mitos yang
sering membuat parno bagi pasangan yang sedang menjalani atau akan
menjalaninya.
Long-Distance Relationship adalah pacaran
yang sering disebut pacaran jarak jauh dimana pasangan dipisahkan oleh jarak
fisik yang tidak memungkinkan adanya kedekatan fisik untuk periode waktu
tertentu (Hampton, 2004). Meskipun kategori dalam jarak kurang spesifik untuk seseorang
dapat dikategorikan mengalami situasi LDR
atau tidak.
Pada beberapa penelitian menggunakan
berbagai macam jarak yang diteliti seperti, Holt & Stone (dalam Kidenda,
2002) menggunakan faktor waktu dan jarak untuk mengkategorisasikan pasangan
yang menjalani pacaran jarak jauh. Berdasarkan informasi demografis dari
partisipan penelitian yang menjalani pacaran jarak jauh, didapat tiga kategori
waktu berpisah (0, kurang dari 6 bulan, lebih dari 6 bulan), tiga
kategori waktu pertemuan (sekali seminggu, seminggu hingga sebulan, kurang dari
satu bulan), dan tiga kategori jarak (0-1 mil, 2-294 mil, lebih dari 250 mil).
Dari hasil penelitian Holt & Stone (dalam Kidenda, 2002) ini, ditemukan
bahwa pacaran jarak jauh dapat dikategorisasikan berdasarkan ketiga faktor
tersebut.
Rata-rata faktor yang paling sering terjadi
dari fenomena LDR tersebut adalah tuntutan tempat menempuh pendidikan dan
tempat pekerjaan. Faktor pendidikan yang dialami oleh remaja perkuliahan yang
baru memasuki masa-masa awal perkuliahan dihadapkan pada kenyataan harus
terpisah dari pasangan yang telah terbina hubungan semenjak mereka berkenalan
di masa-masa sekolah. Hal ini bisa dibilang wajar, karena individu-individu
ingin berusaha membangun karakter dalam dirinya dan menempuh jenjang pendidikan
yang lebih baik. Kemudian, faktor pekerjaan yang menuntut seorang pria atau
wanita harus rela mengorbankan kehidupan percintaannya demi sebuah pekerjaan
yang akan menghidupi mereka di masa depan kelak.
Idealnya,
setiap manusia menginginkan kedekatan hubungan yang nyata dengan pasangannya.
Hal ini tidak salah, namun ternyata realita kehidupan agak pahit sepertinya
untuk melulu memikirkan kriteria manusia menurut segi pembentukan hubungan yang
ideal dan diidamkan. Seharusnya pasangan yang berpikiran untuk selalu
mendapatkan sisi ke-idealannya berusaha keluar dari realita dan mencoba hal
baru seperti kasus LDR ini.
Masalah
ketakutan yang berlebihan atau parno tentang hubungan jarak jauh atau LDR yang
sering menjadi mitos akan kandas ditengah jalan, harus dikaji ulang oleh
pemikiran yang lebih positif. Sebuah penelitian dari Center
for Study of Long Distance, di Amerika Serikat menguatkan pandangan Karsner dan
menampik anggapan yang sudah ada selama ini tentang ide buruk hubungan jarak
jauh. Dalam penelitian yang dipimpin oleh Dr Gred Guldner itu, anggapan bahwa
hubungan jarak jauh pasti gagal hanyalah sebuah mitos. Meski tak ada yang
mengatakan mudah, namun faktanya 700 pasangan yang menjalani long distance
relationship (LDR) di Amerika dalam penelitian tersebut ternyata berujung
dengan pernikahan. Jadi semuanya tergantung bagaimana Anda dan pasangan
menyikapi keadaan ini.
Memang berteori tidak semudah mempraktikan. Awal mula menjalani
hubungan LDR semua pasangan yang mengawalinya akan dilanda rindu dan kehilangan
yang terjadi dan dapat menggoyahkan pemikiran dan perasaan yang mereka
pertahankan untuk mengambil resiko ini. Namun, apabila para pasangan memiliki
keterikatan atau perasaan “saling” dalam
menjalani hubungan ini, niscaya apapun yang pasangan Anda sedang jalani dan
Anda percaya bahwa apa yang Ia lakukan sebuah kebenaran akan berhasil dengan
baik.
Menjadi terbiasa dengan keadaan LDR ini bisa dijawab dengan
seiring bergulirnya waktu, berapa kilometer jarak terpisah diantara pasangan
tersebut tidak akan terasa jika pasangan memanfaatkan teknologi komunikasi yang
semakin canggih ini untuk menjaga kualitas hubungan.
Kiat khusus dalam membina hubungan jaraka jauh ini adalah :
1)
Komitmen, hal penting yang menunjukkan perasaan “saling”. Seperti saling mempercayai, memahami dan
menyayangi yang merupakan pondasi utama dalam menjalin hubungan ini. Sehingga
tidak memungkinkannya pihak ketiga masuk ke dalam hubungan ini.
2)
Komunikasi, tidak peduli akan terpisah secara
fisik. Kecanggihan teknologi yang patut pasangan LDR syukuri adalah alat yang sangat mempermudah
hubungan ini. Tidak ada alasan untuk tidak dapat berkomunikasi seolah-olah
tidak terpisahkan jarak. Dengan menyempatkan diri menginformasikan segala
kegiatan yang dijalani oleh masing-masing pasangan. Niscaya para pasangan akan
seperti melihat status yang update untuk
dikontrol.
3)
Ekspresikan diri, masalah dalam suatu hubungan
merupakan bumbu penyedap matang dan lezatnya suatu hubungan. Jangan pernah
sungkan untuk mengutarakan apa yang Anda rasakan terhadap pasangan Anda. Jika
Anda marah, tidak usah ragu untuk mengungkapkannya, karena pasangan tidak akan
tahu jika hanya diberi “kode” dan Anda menguji seberapa besar kepekaannya.
Jelas saja hal ini akan nihil.
Berhasil atau tidaknya suatu hubungan,
percayalah jarak bukan faktor besar penghalang suatu hubungan. Dengan jarak
mungkin pasangan LDR akan lebih dewasa dalam menyikapi berbagai permasalahan
dalam hubungan mereka. Individu mempunyai urusan dan kepentingan sendiri, teori
yang benar. Namun ada kalanya kita akan
membutuhkan individu lain untuk bersama-sama melengkapi kepentingan individu
lainnya.
Love,
DA