Distance or Disaster ?

19.32





 Nyoba nulis karya ilmiah populer!!!! cekidot ;")


Siapa yang tidak tahu Long Distance Relationship  (LDR) yang sedang ramai dibicarakan oleh kaum remaja?  Bukan saja menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan namun LDR ini ternyata menyimpan berbagai mitos-mitos yang sering membuat parno bagi pasangan yang sedang menjalani atau akan menjalaninya.
                Long-Distance Relationship adalah pacaran yang sering disebut pacaran jarak jauh dimana pasangan dipisahkan oleh jarak fisik yang tidak memungkinkan adanya kedekatan fisik untuk periode waktu tertentu (Hampton, 2004). Meskipun kategori dalam jarak kurang spesifik untuk seseorang dapat dikategorikan mengalami situasi LDR  atau tidak.
Pada beberapa penelitian menggunakan berbagai macam jarak yang diteliti seperti, Holt & Stone (dalam Kidenda, 2002) menggunakan faktor waktu dan jarak untuk mengkategorisasikan pasangan yang menjalani pacaran jarak jauh. Berdasarkan informasi demografis dari partisipan penelitian yang menjalani pacaran jarak jauh, didapat tiga kategori waktu berpisah (0, kurang dari 6 bulan, lebih dari 6 bulan),  tiga kategori waktu pertemuan (sekali seminggu, seminggu hingga sebulan, kurang dari satu bulan), dan tiga kategori jarak (0-1 mil, 2-294 mil, lebih dari 250 mil). Dari hasil penelitian Holt & Stone (dalam Kidenda, 2002) ini, ditemukan bahwa pacaran jarak jauh dapat dikategorisasikan berdasarkan ketiga faktor tersebut.
Rata-rata faktor yang paling sering terjadi dari fenomena LDR tersebut adalah tuntutan tempat menempuh pendidikan dan tempat pekerjaan. Faktor pendidikan yang dialami oleh remaja perkuliahan yang baru memasuki masa-masa awal perkuliahan dihadapkan pada kenyataan harus terpisah dari pasangan yang telah terbina hubungan semenjak mereka berkenalan di masa-masa sekolah. Hal ini bisa dibilang wajar, karena individu-individu ingin berusaha membangun karakter dalam dirinya dan menempuh jenjang pendidikan yang lebih baik. Kemudian, faktor pekerjaan yang menuntut seorang pria atau wanita harus rela mengorbankan kehidupan percintaannya demi sebuah pekerjaan yang akan menghidupi mereka di masa depan kelak.
Idealnya, setiap manusia menginginkan kedekatan hubungan yang nyata dengan pasangannya. Hal ini tidak salah, namun ternyata realita kehidupan agak pahit sepertinya untuk melulu memikirkan kriteria manusia menurut segi pembentukan hubungan yang ideal dan diidamkan. Seharusnya pasangan yang berpikiran untuk selalu mendapatkan sisi ke-idealannya berusaha keluar dari realita dan mencoba hal baru seperti kasus LDR ini.
Masalah ketakutan yang berlebihan atau parno tentang hubungan jarak jauh atau LDR yang sering menjadi mitos akan kandas ditengah jalan, harus dikaji ulang oleh pemikiran yang lebih positif. Sebuah penelitian dari Center for Study of Long Distance, di Amerika Serikat menguatkan pandangan Karsner dan menampik anggapan yang sudah ada selama ini tentang ide buruk hubungan jarak jauh. Dalam penelitian yang dipimpin oleh Dr Gred Guldner itu, anggapan bahwa hubungan jarak jauh pasti gagal hanyalah sebuah mitos. Meski tak ada yang mengatakan mudah, namun faktanya 700 pasangan yang menjalani long distance relationship (LDR) di Amerika dalam penelitian tersebut ternyata berujung dengan pernikahan. Jadi semuanya tergantung bagaimana Anda dan pasangan menyikapi keadaan ini.
Memang berteori tidak semudah mempraktikan. Awal mula menjalani hubungan LDR semua pasangan yang mengawalinya akan dilanda rindu dan kehilangan yang terjadi dan dapat menggoyahkan pemikiran dan perasaan yang mereka pertahankan untuk mengambil resiko ini. Namun, apabila para pasangan memiliki keterikatan atau perasaan “saling” dalam menjalani hubungan ini, niscaya apapun yang pasangan Anda sedang jalani dan Anda percaya bahwa apa yang Ia lakukan sebuah kebenaran akan berhasil dengan baik.
Menjadi terbiasa dengan keadaan LDR ini bisa dijawab dengan seiring bergulirnya waktu, berapa kilometer jarak terpisah diantara pasangan tersebut tidak akan terasa jika pasangan memanfaatkan teknologi komunikasi yang semakin canggih ini untuk menjaga kualitas hubungan.
Kiat khusus dalam membina hubungan jaraka jauh ini adalah :
1)      Komitmen, hal penting yang menunjukkan perasaan “saling”.  Seperti saling mempercayai, memahami dan menyayangi yang merupakan pondasi utama dalam menjalin hubungan ini. Sehingga tidak memungkinkannya pihak ketiga masuk ke dalam hubungan ini.
2)      Komunikasi, tidak peduli akan terpisah secara fisik. Kecanggihan teknologi yang patut pasangan LDR  syukuri adalah alat yang sangat mempermudah hubungan ini. Tidak ada alasan untuk tidak dapat berkomunikasi seolah-olah tidak terpisahkan jarak. Dengan menyempatkan diri menginformasikan segala kegiatan yang dijalani oleh masing-masing pasangan. Niscaya para pasangan akan seperti melihat status yang update untuk dikontrol.
3)      Ekspresikan diri, masalah dalam suatu hubungan merupakan bumbu penyedap matang dan lezatnya suatu hubungan. Jangan pernah sungkan untuk mengutarakan apa yang Anda rasakan terhadap pasangan Anda. Jika Anda marah, tidak usah ragu untuk mengungkapkannya, karena pasangan tidak akan tahu jika hanya diberi “kode” dan Anda menguji seberapa besar kepekaannya. Jelas saja hal ini akan nihil.

Berhasil atau tidaknya suatu hubungan, percayalah jarak bukan faktor besar penghalang suatu hubungan. Dengan jarak mungkin pasangan LDR akan lebih dewasa dalam menyikapi berbagai permasalahan dalam hubungan mereka. Individu mempunyai urusan dan kepentingan sendiri, teori yang benar. Namun  ada kalanya kita akan membutuhkan individu lain untuk bersama-sama melengkapi kepentingan individu lainnya.


Love,

DA

You Might Also Like

0 komentar

Instagram