Operasi Mata Ikan
14.16
Di tahun 2018 lalu merupakan tahun yang penuh dengan kejutan dan pengalaman baru untuk saya. Termasuk dalam urusan "penyakit", jujur saya gak menyangka harus terkena salah satu penyakit kulit yang dikenal banyak orang dengan "mata ikan" atau bahasa kedokterannya "clavus".
Mata ikan, atau biasa dikenal dengan nama clavus, adalah penebalan kulit akibat tekanan dan gesekan yang terjadi berulang kali. Mata ikan biasanya berbentuk bulat berukuran lebih kecil dibanding kapalan, dan memiliki bagian tengah keras yang dikelilingi kulit yang meradang. Penebalan yang berlebihan pada bagian kulit yang berubah menjadi mata ikan juga bisa menimbulkan rasa nyeri. Bagian tubuh yang paling sering terkena mata ikan adalah kaki. (sumber: https://www.alodokter.com/mata-ikan)
Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan benjolan kecil yang ada pada telapak kaki saya itu. Namun, seiring berjalannya bulan rasa nyeri menghampiri setiap kali kaki saya melangkah apalagi bila sudah memakai sepatu lebih dari 8 jam karena bekerja. Rasanya benar-benar tidak nyaman, di senggol sedikit saja seperti mau pecah rasanya. Berbagai macam metode pengobatan ala-ala saya coba dari searching di internet. Obat cair untuk mata ikan pun saya beli sampai 2 botol habis tapi bukan membaik malah membesar penebalannya.
Sebagai langkah awal medis, saya coba ke Puskesmas terdekat dan disarankan untuk dilakukan tindakan atau operasi kecil. Namun, saya masih ragu untuk melakukan hal tersebut karena bayangan saya akan ada pembedahan dan segala macam, jadi parno sendiri kan. Dari Puskesmas saya diberi pain killer untuk meredakan bengkak dan nyeri. Dokter juga menyarankan jika memang tidak mau dilakukan tindakan rajin-rajin di gosok saja bagian mata ikannya dengan menggunakan sikat gigi atau sikat untuk pedicuraphy. Cara tersebut sempat saya coba tapi seperti yang saya bilang tersenggol saja rasanya nyeri bukan main.
Akhirnya saya memutuskan untuk memberanikan diri melakukan tindakan. Tapi saya mau langsung datang ke dokter ahlinya saja. Dengan begitu saya langsung ke rumah sakit besar dan menemui dokter spesialis kulit. Saya memilih rumah sakit Pelni karena dekat dari rumah. Benar saja setelah konsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit saat itu yang bertugas dr. Afria Arista Sp.KK. saya diminta untuk dilakukan tindakan karena sepertinya mata ikan yang saya alami tidak akan membaik jika tidak diangkat. Namun, tindakan belum bisa dilakukan saat hari itu karena kaki saya masih nyeri dan bengkak. Akhirnya, saya diberi obat minum dan obat oles (salep) untuk pereda rasa nyeri dan bengkak itu.
Tindakan dilakukan pada 22 Oktober 2018 seminggu setelah saya konsultasi pertama dengan dokter. Ada part yang lucu tapi juga sakit kalau diingat-ingat. Ini pertama kali untuk saya melakukan operasi atau tindakan semacam ini. Karena saya termasuk orang yang jarang berhubungan dengan rumah sakit, Alhamdulillah selalu dikasih sehat.
Ternyata apa yang saya bayangkan kaki saya akan di bedah dan segala macam itu hanya ketakutan saya saja. Metode tindakan yang digunakan oleh dokter adalah metode pengguntingan kulit-kulit yang menebal. Bius yang digunakan adalah bius lokal, nah bius ini yang lumayan sakit. Karena tidak cukup hanya dengan satu suntikan saja melainkan berkali-kali sampai seluruh kulit selesai digunting. Saya pikir saya tidak akan merasakan kaki saya jadi akan aman saja, tapi ternyata biusnya hanya bertahan selama 2-3 menit saja setelahnya terasa perih dan harus disuntik lagi. Part ini yang membuat saya jadi parno ketika biusnya habis. Tapi saya tetap harus jalani daripada nyeri setiap jalan kaki lebih baik di suntik bius beberapa saat deh. Tindakan berlangsung kurang lebih 2 jam lamanya. Saya masuk ruang tindakan pukul 13.00 dan baru selesai sekitar pukul 15.00. Cukup lama yaa saya kira akan sebentar. Selang waktu 2 jam itu ternyata sudah habis sekitar 2 selongsong suntikan bius lokal.
Alhamdulillah meskipun sakit tapi saya bisa merasakan kulit normal kaki saya. Dan untuk recovery pasca tindakan saya diberikan obat minum, obat oles (salep), dan perban yang harus saya ganti tidak boleh lembab.
Kondisi kaki sebelum dan selama proses tindakan
Kondisi kaki dan obat-obatan pasca tindakan
Nah, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari sakit yang diberikan ini. Saya harus lebih sayang pada diri sendiri dan paham betul kebersihan dan kesehatan itu saling berkorelasi.
Penyebab utama kenapa saya bisa terkena mata ikan adalah sepatu kerja yang saya gunakan bahannya tidak bersahabat dengan kulit sensitif saya. Pemakaian sepatu tersebut lebih dari 8 jam per hari sehingga gesekan antara kulit dan sepatu semakin intens. Maklum, namanya cewek kan gabisa nahan diri kalau lihat sepatu lucu dan murah lagi harganya. Tapi setelah itu saya sadar dan lebih baik menggunakan sepatu yang memang proper untuk bekerja dan gaperlu terlalu sering ganti sepatu daripada kakinya sakit lagi.
Untuk biaya pengobatan pun saya lumayan harus merogoh kocek hanya karena disiplin kebersihan dan keteledoran saya yang minim. Selain rasa sakit yang timbul, ada juga nilai yang harus saya beli supaya sehat kembali.
Sekian sharing saya, semoga bermanfaat.
Love,
DA


0 komentar